Berawal
dari kegalauan dan keinginan untuk camping, berangkatlah kami berempat menuju
salah satu pantai di Gunung Kidul, Pok Tunggal 01122012.
 |
| Pantai Pok Tunggal |
***Jogja,
14.00 WIB***
Siang
terik matahari, turunlah gerimis yang tak lama kemudian disusul awan hitam yang
menutupi langit Jogja siang itu. Meski awan hitam siap menumpahkan
muatannya,beberapa wilayah di Jogja ternyata tidak hujan. Pukul 14.00 kami
berangkat meninggalkan tempat paling nyaman di dunia, menuju alam bebas.
Cuaca
sangat bersahabat dengan kami, setelah melewati bukit pathuk di Jalan
Jogja-Wonosari, Matahari tampak sedikit mengintip dari balik awan hitam yang
tertiup angin. Kami terus melaju, hingga akhir nya kami sampai di tempat tujuan
kami menginap.
Rute
untuk menuju Pantai Pok Tunggal sama dengan menuju Pantai Krakal, Sundak
ataupun Indrayanti. Dari jalan Jogja-Wonosari, sampai di ringroad Wonosari (ada
bundaran bank BPD DIY) kemudian belok kanan (ringroad Ronosari) dan ikuti saja
sampai Jalan Wonosari-Baron. Sebelum masuk area pantai Baron, Krakal, Kukup,
ada pertigaan yang menuju daerah Tepus. Ikuti saja jalan tersebut sampai anda
menemukan pertigaan papan petunjuk nama Pantai Siung, Wediombo dan Sadeng.
Belok kanan dan sebuah papan nama yang terbuat dari kayu bertuliskan Pantai Pok
Tunggal telah terpasang di tepi jalan.
Selain
melewati daerah Tepus, Pantai ini juga dapat dicapai dengan mengikuti rute Pantai
Kukup, Krakal, Sundak, Indrayanti. Pantai Pok Tunggal, berada di sebelah timur Pantai
Indrayanti.
***Pok
Tunggal, 17.30 WIB***
Setelah
memarkir kendaraan, Pemuda yang berjaga sebagai petugas parkir memberitahu
kami, tentang peraturan camping di Pantai Pok Tunggal. Kamipun bergegas mencari
lokasi untuk mendirikan tenda.
Sore itu,
tak hanya kami yang melakukan camping, sudah ada beberapa kelompok yang datang
dan mendirikan tenda terlebih dahulu. Tak hanya wisatawan dari kota Jogja saja,
bahkan dari luar kota pun jauh-jauh datang ke tepat ini untuk menikmati indah
nya pantai ini.
Lokasi
yang ku pilih adalah sebelah barat pantai, yang letaknya tak terlalu dekat
dengan keramaian warung yang ada di sekitar pantai. Selain itu, tempat ini juga
dekat dengan sumber mata air tawar yang digunakan masyarakat sekitar untuk
mengambil air.
Tenda telah berdiri, kamipun melepas lelah dengan istirahat dan
ibadah.
Perjalanan
panjang membuat anakonda yang ada di perut kami bernyanyi. Berjalanlah kami
menuju salah satu warung makan di area pantai.
Hanya dengan uang Rp9.000,00
saja, Nasi goreng hangat, telur mata sapi, dan setoples kerupuk panas yang baru
saja digoreng siap menenangkan perut kami. Makan malam ditutup dengan secangkir
teh panas menemani obrolan santai di pinggir pantai.
***Pok
Tunggal, 20.00***
Rasa
lelah sebenarnya membuatku ingin segera merebahkan badan dan tidur, namun sayang
rasanya apabila malam itu disia-siakan dengan tidur cepat. Akhirnya kami
berjalan-jalan menyusuri pantai, melihat tenda-tenda yang dibangun kelompok
lain.
Memang
malam hari, adalah waktu air laut pasang. Awalnya banyak dari mereka yang
mendirikan tenda di tepi pantai dekat dengan laut, namun mereka harus memindah
tendanya karena ombak yang makin lama kian ingin membasahi mereka. Untung kami
sudah berpengalaman, sehingga mendirikan tenda tidak terlalu dekat dengan bibir
pantai, sehingga tidak khawatir air laut yang pasang.
Kembali
ke tenda, malam yang cerah tampak beberapa bintang menemani rembulan yang
menyinari malam minggu kami di pantai. Berbekal senter yang kami bawa, kami
menghabiskan awal malam dengan bermain kartu dan bersenda gurau.
Tengah
malam, kami mengakhiri permainan dan segera beristirahat, Karena esok pagi kami
berniat untuk melakukan jelajah pantai menuju Pantai Seruni.
***Pok
Tunggal, 05.00***
Ketika ku
buka mata, aku terkejut karena jam di ponselku menunjukkan pukul 5 pagi dan
langit sudah terang.
#Yak,
kami kesiangan. :-3
 |
| Pantai Watu Lawang |
Air laut
sudah pasang dan kami tidak jadi menyusuri pantai menuju Pantai Seruni, Rute
pun di alihkan menuju sebelah barat hingga Pantai Watu Lawang.
Pukul 8.00,
kami kembali ke Pok Tunggal dan membeli sarapan untuk mengisi tenaga, kami akan melakukan tracking menuju Patai Seruni.
Berbekal dengan pedoman
bertanya kepada warga, kami memulai tracking.
Informasi yang kurang jelas dari
warga sempat membuat langkahku gontai. Sebuah petunjuk gardu siskamling
(jawa:cakruk) yang dijadikan petunjuk awal tidak kunjung kami temui. Setelah
bertanya kepada warga, kamipun melanjutkan perjalanan, melewati jalan setapak,
naik turun perbukitan, dan akhir nya menemukan Pantai Seruni.
Pantai yang
memiliki karakter yang sama dengan pantai lainnya di Gunung Kidul, dengan pasir
putih, dan tebing karang. Pantai ini tidak terlalu luas, namun tanahnya yang
cukup datar dan tidak ada satu pengunjung pun, membuat pantai ini terasa milik
kami berempat. Namun naas, kedatangan kami disambut lolongan anjing-anjing yang
tingal di dekat pantai ini. Beruntung pemilik anjing segera membawanya pergi.
 |
| Pantai Seruni |
Dahulu
kala, di sebelah timur Pantai Seruni terdapat Air Terjun Seruni. Namun kini,
air terjun tersebut sudah dialihkan menjadi sumber air bagi warga sekitar.
Berdasar cerita warga, mereka bergotongroyong membangun saluran air, untuk
keperluan sehari-hari.
***Seruni,
09.00 WIB***
 |
| Mantan Air terjun Seruni |
Puas
menikmati pantai yang serasa milik pribadi, kami kembali melakukan tracking
menuju pantai Pok Tunggal. Kali ini, kami mendapat jackpot, nyasar dua kali.
Beruntung warga sekitar sangat ramah dan baik hati. Tidak hanya memberi tahu,
mereka dengan ramah mengantarkan kami menuju jalan yang lurus dan benar.
Bahkan kami
terpaksa menerobos ladang milik warga karena tersesat. Tak tahu harus minta
maaf kepada siapa, tapi kami tidak sengaja menginjak tanaman yang telah di
tanam di ladang tersebut. Kami minta maaf.
Akhirnya,
jalan menuju Pantai Pok Tunggal kami temukan lagi.
*** Pok
Tunggal, 11.00 WIB***
Kami
selesei berkemas, tenda kami lipat dan sampah kami bersihkan. Rasa lelah
setelah tracking membuatku ingin segera pulang dan beristirahat. Dengan rute
yang sama sebelumnya, kami kembali menuju rumah masing-masing.
***Jogja,
14.00 WIB***
Sampai di
Piyungan, Jalan Wonosari, kami disambut dengan hujan deras. Dan akhirnya sampai
lagi di tempat paling nyaman, Rumah Orang Tua kami masing-masing.
Beberapa
saran bagi anda yang akan mengunjungi pantai ini,
- 1. Sebaiknya anda datang pada pagi
atau siang hari. Karena dari jalan menuju pantai, masih berupa jalan yang tidak
rata dan berbatu. Apabila sudah gelap penerangan sangat kurang, bahkan
mendekati pantai hampir tidak ada penerangan.
- 2. Pastikan Kendaraan anda dalam
kondisi baik dan laik jalan. Karena jalanannya naik turun, berkelok dan
beberapa bagian jalan yang tidak rata.
- 3. Bagi anda yang akan
camping/berkemah, jangan membuat api unggun di pasir pantai karena dapat
merusak kebersihan pantai. Jagalah kebersihan pantai, jangan membuang sampah
sembarangan. Karena pantai ini masih bersih dan masyarakat sekitar menjaga
kebersihan pantai ini.
- 4. Bagi anda yang akan menuju Pantai
Seruni, sebaiknya tunda dulu keinginan anda. Karena jalan menuju pantai ini
sedang dibuat. Jangan mengikuti cara yang kami lakukan, apalagi dengan
menerobos ladang milik warga secara sembarangan. Selain dapat merusak tanaman,
bagi anda yang beruntung, anjing milik warga siap mengejar anda. Maka
berhati-hatilah. Sekali lagi penulis berpesan tunggu sampai jalan selesai
dibuat.
- 5. Jagalah kebersihan, jangan merusak
pemandangan dengan sampah ataupun coretan tulisan di mana saja. Berhati-hatilah
di jalan raya, karena anda pergi untuk berwisata, bukan untuk menjalani
perawatan di rumah sakit, dan ingat selalu keluarga menanti anda di rumah.
Galery Foto:
 |
| Nge-Camp di Pantai Pok Tunggal |
 |
| Sisi Lain Tebing Pantai |
 |
| Sarapan Hemat di Tepi Pantai |
 |
| Persewaan Payung untuk Berteduh |